Lee neVer die haRd

Sahabat ku TerkeKang

Posted on: Juni 17, 2008

Nama nya Lena, Lena Ardiyansyah lengkapnya. Dia sahabat aku dari kecil, tetangga aku dan kita pun masih ada kaitan saudara. Mama nya sama mama ku kakak beradik. Keluarga mereka adahal keluarga yang bahagia, punya segalanya, baik, bersosialisasi. Tapi Lena ga pernah merasakan bahagia berada di tengah keluarga itu. Ayah nya Ilyas Ardiyansya dan Mama nya Eka Elena dan menjadi Bu Eka Ardiyansyah karna jabatan sang suami di kantornya dan mungkin karna mereka sudah menikah juga, kalo Bu ani ini nikah sama ayah ku yang bernama Ahmad Rohadi mungkin jadi Eka Rohadi, hehe. Meskipun seharusnya aku manggil mama nya Lena itu bibi tapi aku ga pernah manggil dengan sebutan bibi tapi m=ngikutin orang-orang yaitu “Ibu”. Meskipun dia berulang kali ngelarang aku manggil ibu, udah kebiasan sih. Jadi susah ngilangin kebiasaan.😀

Kembali ke Lena. Dia ga pernah ngerasa bahagia dengan keadaan dia sekarang. Padahal dengan kasap mata aku yang melihat dan orang lain lihat, keluarga mereka tuh keluarga yang paling bahagia. Aku malah iri dengan Lena tapi kenapa Lena ga bahagia? Dari kecil sampe sekarang umurnya yang udah 20 tahun, dia selalu mengadu, meratap dengan ketidakbahagiaanya.

Angin pagi masih terasa sejuk, embun-embun masih menari di atas dedauan, bau pagi masih tercium aroma nya. Hari ini, Lena janjian buat lari pagi bareng aku sekedar mengitari komplek. Kita memang selalu lari pagi bareng karna Lena ga pernah di izinin kalo lari sendirian atau lari ama orang lain yang tidak di kenal ayahnya. Setelah selesai pagi kita biasanya nongkrong di Gor. Dimana semua orang sibuk dengan cara olah raga nya masing-masing disana. Di dekat Gor itu ada semacam café tapi bukan café karna tempatnya masih kecil. Tapi kalo di sebut warung pun terlalu mewah disebutnya. Makanya aku selalu nyebut kalo itu café, walaupun namanya sebenarnya “Eliana Gor”. Mungkin karna tempatnya di gor makanya di kasih nama itu. Lena memesan susu hangat ama 1 slice roti keju kesukaannya, sedangkan aku memesan Moccacino hangat dan  1 slice roti coklat. Di sela-sela sarapan pagi kita, Lena sempat bercerita tentang kejenuhannya di rumah selama ini, dan ini sebenarnya yang aku tunggu, dia akan bercerita kenapa selalu bilang tidak bahagia.

“Ana…kamu tau ga kenapa selama ini aku selalu bilang kalo aku tidak bahagia di rumah. Padahal orang tua ku baik ke semua orang, aku memiliki semuanya, aku mendapatkan semuanya. Tapi satu yang ga lena dapat, yaitu kebebasan. Lena ga bebas memilih, lena ga bebas berteman, lena ga bebas apapun. Semuanya harus menurut ayah, sesuai keinginan ayah. Ampe sekolah pun harus pilihan ayah. Lena mau bebas na, seperti ana. Bebas berteman, bebas memilih, bebas apapun. Waktu lena kecil mungkin lena fikir itu karna ayah mau mendidik lena tapi setelah lena segede ini, ini otoriter na. lena udah ga tahan. Masa pilih pacar aza mesti pilihan ayah, lena ga maul ah” ceritanya dengan mata memerah, seolah telah menghancurkan tembok yang selama ini menghantui dirinya. Ternyata lena selama ini tersiksa, aku ga nyangka kalo dia setersiksa itu, tapi mungkin ayah dia punya sikap tersendiri dalam mendidik anaknya. Aku juga ga bisa nyalahin salah satu. Tapi dengan menahan kebebasan anak yang terlalu juga itu ga baik buat ekspresi anaknya. Obrolan itu terputus karna telpon dari ayah lena yang menyuruh nya segera pulang.

Semakin hari lena semakin terbuka sama aku. Dia semakin tersiksa dan ingin kabur saja dari rumah. Orang tuanya selalu menginginkan yang terbaik, demi nama baik keluarga. Ingin lena menjadi juara, demi nama keluarga, lena menjadi di kenal ramah dan baik, demi nama keluarga. Kesal rasanya apa-apa di sangkut pautkan dengan keluarga. Lena mau mendapatkan semua prestasi dan kebaikannya itu jangan di sangkut pautkan dengan nama keluarga, biar lah lena mengapresiasikan diri nya sendiri. Mungkin ayahnya terlalu egois atau mungkin terlalu memikirkan kedudukannya sekarang. Yang pasti sahabatku yang cantik, baik, ramah dan smart ini juga membutuhkan sedikit kebebasan bukan kekangan demi nama keluarga….

 

1 Response to "Sahabat ku TerkeKang"

yang terkekang itu lo apa sahabat lo…😛

tenang aza say, ortu yang ngekang berarti sayangnya bangeeett ama lo, ok

gw juga sayang ama lo, sahabat ku yang terkekang😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

My AWARD

KaLendeR

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Lee deUyizzZZ

teMen-teMen biaSa paNggiL aKu "Lee"

tHanx baNget yaNg uDah MampiR k bLog aKu

kaLo maU cHat aMa aKu di lee_deuyiz@yahoo.com

aTo miss_hope27@yahoo.com

kaLo maU teMenan di FrienDster di miss_hope27@yahoo.com

kaTegori

My faVorite baNd

CeWe-ceWe IPM ;)

Blog Stats

  • 90,173 hits

cHat wiTh me “Lee”

%d blogger menyukai ini: